Hari ini aku kembali mendapat pelajaran luar biasa, terkadang apa yang kita pikirkan tidak seperti yg orang lain rasakan. Hemz, begitulah manusia. Kadang apa yang terlihat terbungkus dengan sejuta makna. Seperti layaknya hujan deras yang tidak pernah diinginkan, begitu pula kehidupan.
Setiap manusia memiliki pelangi
dalam kehidupannya. Bukan berarti setiap perjalanannya indah. Sebelum pelangi
itu datang, kadang kita perlu ketakukan, kekecewaan ketika melewati beberapa
awan hitam. Awan yang tidak pernah kita tahu kapan dia datang, dan apa alasannya
mendatangi kita. Beribu pertanyaan mengapa dan kapan dia pergi meninggalkan
kita ?.
Seperti
setiap rasa takut yang kita rasakan selalu dan selalu saja ada ceritanya.
Kembali lagi kita diminta untuk percaya bahwa setiap yang terjadi antara kita
ada yang mengaturnya. Kadang cinta itu manis, bahkan cinta juga pahit.
Bukan soal cinta yang akan kita bahas. Tapi sesuatu yang lebih berarti
dari cinta. Diri sendiri yang mempunyai ego. Sifat jelek yang tidak pernah kita
tahu kapan itu akan datang. Begitu tiba-tibanya sampai kita bingung untuk
mengendalikannya bahkan menghilangkannya. Belum lagi pertanyaan untuk apa ia hadir, serta bagaimana kehadirannya
membuat diri kita tidak bermakna.
Seseorang yang kita anggap ceria, tertawa selalu juga tidak menjaminnya dia bahagia. Dia juga manusia, bisa menyimpan air matanya di dalam kebagiaannya. Tapi dia menutupi Karena ia tahu kepada siapa air matanya akan jatuh, untuk siapa dia bercerita, dan apa yang dia butuhkan untuk menghentikan air mtanya.
Ingat
yang harus kita lakukan ketika orang itu datang kepada kita dengan membawa air
matanya. Jadilah pendengar yang baik. Meskipun kita bisa membantunya menghapus
air matanya cukup dengarkan keluh kesahnya. Dia butu berbicara dan jaga semua
rahasianya. Jika dirimu tidak sanggup melakukannya maka pergilah dan tinggalkan
ia sementara karena akan ada orang terbaik yang akan menghampirinya.
Bukan
berarti kita meninggalkan karena kita tidak menyayanginya tetapi kita coba memberinya
ruang mengutarakan apa yang sedang ia radakan. Bukan juga merasa seperti tidak
peduli tapi hanya berusaha untuk tidak memperkeruh keadaaan.
Cinta yang akan membuka matanya tapi hati akan selalu bersamanya. Biarkan dia dan air matanya sementara agar segala keluhnya jatuh bersama tetesan air mata. Yang selalu menguatkan perjalanan kita "Ketika kita menjatuhkan AIR MATA, ingat bahwa saat ini Allah sedang mengajarkan cara kita untuk TERSENYUM".
Dengan Penuh Cinta, Yogyakarta 2017
0 Komentar