Hening dalam Doa

Sesaat setelah terdengar suara nyaring. Kereta meluncur dengan kencangnya. Diri mulai merasakan jika perjalanan sudah dimulai. Masih didepan pintu masuk, dia kemudian bergegas menuju tempat duduk nya. Menoleh kearah jendela seperti tidak percaya jika sekarang saatnya dia pergi. Masih hangat diingatannya, tadi sebelum tiba distasiun. Dia sempat beradu mulut dengan supir angkot sebatas uang kembalian. Masih marah ketika supir angkot meminta uang lebih dari apa yang dijanjikan. 

Kemudian dia merasa jika penumpang lain bahkan mendukungnya. Dia berjanji jika tidak akan naik angkot yang sama. belum cukup, Dia juga sebelum harus menelan dengan lapang dada diusir oleh sang kurir barang distasiun. Ketika barang yang dibawanya tidak dia izinkan masuk kedalam kereta jika tanpa jasanya. Begitulah hidup.

Entah akan ada kejadian apa selanjutnya. Ketika memandang jendela yang terlihat hanya padang rumput saja. Seketika gerbong kereta menjadi hening. Yang dipandangi hanya hamparan padang rumput. Sejenak dia sadar, saat ini dia sudah tidak berada di kota. Saatya menutup mata sejenak mengaturkan doa agar perjalanan kali ini aman sampai pada tujuan.

Kala itu, Jumat, April 2019 dengan berbekal doa dari orang tercinta. Pergi berjuang meraih asa yang dikatakan cita. Berpisah tak selamanya, tapi perpisahan mengajarkan arti sebuah kerinduan. Untuk dia yang disana, untuk segudang asa yang dibawa. Salam perpisahan.

Baturaden, 8 Desember 2019