Menunggu Keputusan

"Siapa yang akan mau bersamamu?". "Apa yang akan mereka pikirkan tentangmu?". "Sudah yakin dengan pilihanmu? ". Aku tidak tahu apa alasan aku menerima kenyataan ini.  Tapi tekat hati menyatakan "Apapun itu, aku sudah yakin dengan keputusan yang aku buat"

Tenanglah adik-adikku ada kami yang akan memeluk kalian.  Apapun yang terjadi,  ada tante yang akan merawatmu. Kalian tidak akan pernah sendirian. Inilah takdir yang harus kalian hadapi.  Tapi kami akan selalu menemani kalian menghadapi takdir itu. 

Ternyata dunia nyata begitu kejam. Kenyataan seperti yang ada di sebuah drama sangat menyakitkan, mengecewakan dan membahagiakan.  Tidak aku sangka doa yang aku sampaikan dengan bermain Allah balas. "nanti kalo kita punya anak, bareng yah!" Karena aku ngga bisa tanpa saudariku. Sedih kalo diingat kembali, jika saja kenyataan ini tak mengabulkan. "aku tarik kembali ucapanku".  

Hari itu langsung tiba, Kita  langsung menjadi orang tua asuh bagi mereka.  Si baby yg disayangi  akan tinggal bersama adikku dan suaminya.  Sementara aku akan merawat kakaknya untuk tinggal berasama ku.

Kini aku tidak bisa mengatakan menata kedepan.  Hal yang aku inginkan adalah merawat mereka dengan tunbuh kembang.  Tak perduli siapa yang nanti akan menemani, semoga dia adalah manusia baik hati yang mau menerima hal ini. Aku yakin dan percaya,  ada orang yang akan mendukung keputusanku.  Yang akan selalu menerima kekuranganku,  dan menerima niat baikku untuk mereka adik-adikku. 

Kalian manusia yang tak berdosa,  tak pernah salah.  Hingga jangan pernah kehilangan keciaan untuk hal yang tidak kalian buat.  Biarlah takdir terjadi,  tapi kalian tak akan pernah sendiri. Ada kami tempat kalian mengadu. Tangis sendu itu semoga tak pernah kulihat dari wajah manis kalian. 

Goresan yang datang dari jalan, Tetes hujan penuh duka.

Januari, 2022

(hanya sebatas menulis cerita, cukup!  Tanpa tanda tanya) 

Dengan penuh cinta

-AN-