Ada hal yang hendak ku sampaikan cerita tentang sahabat karibku. Hal
yang membuat hati tergetar, hal yang tidak ingin ku ketahui, hal yang aku rasa
bimbang tapi sedikit banyak punya banyak hikmah.
Hari dimana aku berkunjung dan
bersilahturahmi pada sahabatku. Sahabat baik yang sama - sama berjuang saat
jauh dari keluarga. Dia yang kurindukan setalah satu tahun tak bertatap muka.
Saat kami berjalan bersama, dia mulai
menampakkan muka ragu atas kedatanganku. Dia menyatakan jika kini dia tidak
bisa seperti dulu. "Aku sudah tidak sholat lagi sekarang" begitu
katanya.
Aku memang melihat perubahan padanya
tapi aku harus mendengarkan ceritanya sebelum aku bertanya. Lantas dia menjawab
"aku udah lama nga sholat, kamu jangan marah ya" begitu ucapnya.
Kemudian dia melanjutkan kalimat berikutnya "aku ikut gereja
sekarang".
Ucapan yang begitu kudengar terasa
rintih. Tapi sekali lagi aku harus tetap bersikap. Dalam kehidupan ada banyak
cara orang. Aku bahkan bukan tuhan yang harus menghakiminya. Aku hanya bertanya
"sejak.?". Dia dengan cepat menjawab "sejak aku kehilangan
segalanya, aku kehilangan arah dan aku sekarang disini".
Sambil menikmati seblak aku mulai
membuka suara. "Terima kasih sudah jujur, ya". Kemudian dia menjawab
"kamu beneran nga marah. An please aku nga sebaik itu" timpalnya.
Aku tersenyum terlebih dahulu agar
dia merasa lebih rileks. "Aku siapa yang harus marah pada keputusanmu, aku
tahu kamu sudah dewasa. Bagaimanapun aku cuma bisa berdoa dengan cara
aku".
"Aku takut kamu akan menjauh,
dan kamu akan ninggalin aku lagi. Ada banyak hal yang aku belum ceritakan ke
kamu". Aku merasa aku bukan tuhan. Aku merasa semua orang tidak bisa
menghakimi apapun yang orang lain lakukan.
Di luar sana akan ada banyak orang
yang tidak setuju dengan keputusannya. "Aku bukan tuhan, meskipun sakit
terdengar. Tapi tidak berhak untuk marah pada pilihanmu. Karena aku tahu ada
banyak hal yang kamu pertimbangkan sejak saat itu". Aku
kemudian menguatkan hati dan bertanya satu hal padanya. "Apakah itu datang
dari dirimu sendiri menemukan tuhan, atau ada yang memaksa, aku cuma takut itu
tanggung jawab untuk dirimu sendiri.
Dia dengan tegas menjawab "Itu
pilihanku, dan tanpa paksaan dari siapapun". Tapi ada kata yang tidak
pernah bisa hiang dari pikiranku saat itu. "Apapun aku, bagaimanapun aku,
tolong tetap jadi sahabat baikku".
Aku sudah tahu, jika apapun yang
berubah diantara kita aku akan selalu menjadi sahabatmu. Aku tidak akan pernah
meninggalkanmu. Sejauh apapun kita nanti, kamu tetap lah sahabatku.
Kita pernah berjuang sedih di kota
Jogja, mana bisa aku melupakan hal - hal yang kita lakukan disana. Pernah
berjuang dan nangis bersama. Pernah terluka, bahkan pernah pasrah dengan
keadaan yang benar - benar membuat kita lebih dekat satu dan lainnya.
Kita pernah saling pergi jauh satu
sama lain, tapi namanya sahabat akan selalu ada untuk yang lainnya. Pelajaran
hidup di Jogja, itu yang selalu jadi penguat kita..
Aku menghargai segala keputusannya,
dia bercerita tentang hal apa saja yang dia lalui saat kita tidak bisa saling
menghubungi. Tapi ini babak baru, bagaimanapun cara kita berdoa. Semoga doa doa
terbaik kita diterima dan kembali dengan cara yang lebih indah.
Jujur, aku bukan orang yang harus
terlihat baik, aku kadang juga merasa sedih. Tapi sejak lama, bahkan saat di
Jogja. Tidak pernah ada paksaan saat memeluk keyakinan. Pesanku saat itu
"apa yang kamu pilih kamu pertanggung jawabkan, apapun yang kamu pilih
semoga itu pilihan dari hatimu. Aku bahkan bukan tuhan untuk menghakimi, aku
bahkan tidak punya hak untuk melarang bahkan membencimu. Aku cuma manusia
biasa, aku belum pernah melihat syurga. Kita selalu punya cara untuk sampai
pada tujuan masing-masing".
Meskipun dalam hatiku, aku selalu
mendoakan dia kembali pada fitrah. Saat titik ini doa yang aku sampaikan
untuknya.
Setelah kejujuran itu kudengar, tidak
ada yang berubah antara kami. Hanya saja ada beberapa hal yang dulu sejuk dan
menyenangkan untuk dilakukan bersama namun kini akan sedikit
berbeda.
Sejak dulu, aku terbiasa dengan
toleransi di sekitarku. Banyak hal yang membuat aku semakin cinta pada
penciptaku. Banyak hal yang kadang kecil namun selalu ku syukuri. Sejauh ini,
aku selalu yakin Allah akan selalu punya cara.
Bagiku, aku beribadah dengan caraku,
dan yang lain boleh berdoa dengan cara mereka, aku tidak pernah pusing jika
seringkali aku bertemu dan bersapa dengan yang berbeda.
Dulu, rasanya ada temanku yang saking
dia menghormati ku dengan hijab yang ku pakai, dia takut untuk merokok di
depanku. Bahkan setiap selesai makan bersama, dia lari karena hendak merokok.
Dia bersembunyi jauh dariku. Tanpa ragu aku hanya bilang, tidak apa aku tidak
akan marah. Aku menghargai apapun itu, aku bukan raja yang harus kamu takuti.
Bahkan aku ya diriku, bagaimanapun aku. Aku tetap manusia biasa.
Aku hanya tidak ingin menjadi orang
yang tidak toleran pada sesama. Kadang selama itu tidak pernah menganggu diriku
dan ibadahku, aku tidak masalah. Tapi aku berterima kasih pada Diyaz, yang
selalu memperlakukan baik padaku walaupun aku tidak pernah memintanya. Sekarang
jika kita berkumpul dan makan bersama dengan teman - teman dia selalu menjauh
tapi sengan sopan dan bilang jika hendak merokok. Bahkan kita sama sama saling
menghargai dan harus menyakiti dan menyingung perasaan lainnya.
Aku tidak berniat menyalahkan
lingkungannya, bahkan aku tidak disana saat itu, tapi aku selalu berdoa Allah
tetap selalu menjaganya. Dia sahabat baikku dan aku akan selalu menjadi
sahabatnya.
Jakarta, 2024
CATATAN: Ini hanya kejadian pribadiku,
dia membaca ini pun tetap tersenyum. Persahabatan bisa indah walaupun dalam
perbedaan. Kita selalu punya cara mendoakan satu sama lain.
Tetap pegang tangan sahabatmu, jangan
pernah biarkan dia sendirian. Karena selain mengadu pada tuhan, sedikit
berbicara pada sahabat akan membuatmu semakin waras.
Aku selalu menyayangimu, Sahabatku
Bandung itu masih istimewa
Kereta Depok - Bandung

0 Komentar