Pixabay/ThuyHaBich/wanita alam

Ada hal yang hendak ku sampaikan cerita tentang sahabat karibku. Hal yang membuat hati tergetar, hal yang tidak ingin ku ketahui, hal yang aku rasa bimbang tapi sedikit banyak punya banyak hikmah.

 

Hari dimana aku berkunjung dan bersilahturahmi pada sahabatku. Sahabat baik yang sama - sama berjuang saat jauh dari keluarga. Dia yang kurindukan setalah satu tahun tak bertatap muka.

 

Saat kami berjalan bersama, dia mulai menampakkan muka ragu atas kedatanganku. Dia menyatakan jika kini dia tidak bisa seperti dulu. "Aku sudah tidak sholat lagi sekarang" begitu katanya.

 

Aku memang melihat perubahan padanya tapi aku harus mendengarkan ceritanya sebelum aku bertanya. Lantas dia menjawab "aku udah lama nga sholat, kamu jangan marah ya" begitu ucapnya. Kemudian dia melanjutkan kalimat berikutnya "aku ikut gereja sekarang".

 

Ucapan yang begitu kudengar terasa rintih. Tapi sekali lagi aku harus tetap bersikap. Dalam kehidupan ada banyak cara orang. Aku bahkan bukan tuhan yang harus menghakiminya. Aku hanya bertanya "sejak.?". Dia dengan cepat menjawab "sejak aku kehilangan segalanya, aku kehilangan arah dan aku sekarang disini".

 

Sambil menikmati seblak aku mulai membuka suara. "Terima kasih sudah jujur, ya". Kemudian dia menjawab "kamu beneran nga marah. An please aku nga sebaik itu" timpalnya.

 

Aku tersenyum terlebih dahulu agar dia merasa lebih rileks. "Aku siapa yang harus marah pada keputusanmu, aku tahu kamu sudah dewasa. Bagaimanapun aku cuma bisa berdoa dengan cara aku". 

 

"Aku takut kamu akan menjauh, dan kamu akan ninggalin aku lagi. Ada banyak hal yang aku belum ceritakan ke kamu". Aku merasa aku bukan tuhan. Aku merasa semua orang tidak bisa menghakimi apapun yang orang lain lakukan.

 

Di luar sana akan ada banyak orang yang tidak setuju dengan keputusannya. "Aku bukan tuhan, meskipun sakit terdengar. Tapi tidak berhak untuk marah pada pilihanmu. Karena aku tahu ada banyak hal yang kamu pertimbangkan sejak saat itu".  Aku kemudian menguatkan hati dan bertanya satu hal padanya. "Apakah itu datang dari dirimu sendiri menemukan tuhan, atau ada yang memaksa, aku cuma takut itu tanggung jawab untuk dirimu sendiri.

 

Dia dengan tegas menjawab "Itu pilihanku, dan tanpa paksaan dari siapapun". Tapi ada kata yang tidak pernah bisa hiang dari pikiranku saat itu. "Apapun aku, bagaimanapun aku, tolong tetap jadi sahabat baikku".

 

Aku sudah tahu, jika apapun yang berubah diantara kita aku akan selalu menjadi sahabatmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sejauh apapun kita nanti, kamu tetap lah sahabatku.

 

Kita pernah berjuang sedih di kota Jogja, mana bisa aku melupakan hal - hal yang kita lakukan disana. Pernah berjuang dan nangis bersama. Pernah terluka, bahkan pernah pasrah dengan keadaan yang benar - benar membuat kita lebih dekat satu dan lainnya. 

 

Kita pernah saling pergi jauh satu sama lain, tapi namanya sahabat akan selalu ada untuk yang lainnya. Pelajaran hidup di Jogja, itu yang selalu jadi penguat kita..

 

Aku menghargai segala keputusannya, dia bercerita tentang hal apa saja yang dia lalui saat kita tidak bisa saling menghubungi. Tapi ini babak baru, bagaimanapun cara kita berdoa. Semoga doa doa terbaik kita diterima dan kembali dengan cara yang lebih indah.

 

Jujur, aku bukan orang yang harus terlihat baik, aku kadang juga merasa sedih. Tapi sejak lama, bahkan saat di Jogja. Tidak pernah ada paksaan saat memeluk keyakinan. Pesanku saat itu "apa yang kamu pilih kamu pertanggung jawabkan, apapun yang kamu pilih semoga itu pilihan dari hatimu. Aku bahkan bukan tuhan untuk menghakimi, aku bahkan tidak punya hak untuk melarang bahkan membencimu. Aku cuma manusia biasa, aku belum pernah melihat syurga. Kita selalu punya cara untuk sampai pada tujuan masing-masing".

 

Meskipun dalam hatiku, aku selalu mendoakan dia kembali pada fitrah. Saat titik ini doa yang aku sampaikan untuknya.

 

Setelah kejujuran itu kudengar, tidak ada yang berubah antara kami. Hanya saja ada beberapa hal yang dulu sejuk dan menyenangkan untuk dilakukan  bersama namun kini akan sedikit berbeda.

 

Sejak dulu, aku terbiasa dengan toleransi di sekitarku. Banyak hal yang membuat aku semakin cinta pada penciptaku. Banyak hal yang kadang kecil namun selalu ku syukuri. Sejauh ini, aku selalu yakin Allah akan selalu punya cara.

 

Bagiku, aku beribadah dengan caraku, dan yang lain boleh berdoa dengan cara mereka, aku tidak pernah pusing jika seringkali aku bertemu dan bersapa dengan yang berbeda.

 

Dulu, rasanya ada temanku yang saking dia menghormati ku dengan hijab yang ku pakai, dia takut untuk merokok di depanku. Bahkan setiap selesai makan bersama, dia lari karena hendak merokok. Dia bersembunyi jauh dariku. Tanpa ragu aku hanya bilang, tidak apa aku tidak akan marah. Aku menghargai apapun itu, aku bukan raja yang harus kamu takuti. Bahkan aku ya diriku, bagaimanapun aku. Aku tetap manusia biasa. 

 

Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang tidak toleran pada sesama. Kadang selama itu tidak pernah menganggu diriku dan ibadahku, aku tidak masalah. Tapi aku berterima kasih pada Diyaz, yang selalu memperlakukan baik padaku walaupun aku tidak pernah memintanya. Sekarang jika kita berkumpul dan makan bersama dengan teman - teman dia selalu menjauh tapi sengan sopan dan bilang jika hendak merokok. Bahkan kita sama sama saling menghargai dan harus menyakiti dan menyingung perasaan lainnya.

 

Aku tidak berniat menyalahkan lingkungannya, bahkan aku tidak disana saat itu, tapi aku selalu berdoa Allah tetap selalu menjaganya. Dia sahabat baikku dan aku akan selalu menjadi sahabatnya.

 

Jakarta, 2024

 

CATATAN: Ini hanya kejadian pribadiku, dia membaca ini pun tetap tersenyum. Persahabatan bisa indah walaupun dalam perbedaan. Kita selalu punya cara mendoakan satu sama lain.

Tetap pegang tangan sahabatmu, jangan pernah biarkan dia sendirian. Karena selain mengadu pada tuhan, sedikit berbicara pada sahabat akan membuatmu semakin waras.

Aku selalu menyayangimu, Sahabatku

 

Bandung itu masih istimewa

Kereta Depok - Bandung