Pixabay.com/pexels/Laptop, Hands

Nak, Ini Cerita Ibumu Yang Belum Menjadi Siapa-Siapa !

Tolonglah Bangga Pada Perjuangan Ibu.

Berpendidikan tinggi bagi seorang perempuan diibaratkan sebagai sebuah investasi. Investasi jangka panjang untuk anak - anak. Statement yang banyak beredar "Anak anakmu berhak lahir dari orang tua dan ibu yang terdidik". Sesungguhnya semua bukan perihal gelarnya saja, tapi nilai positif dan manfaat yang didapat. 

Sangat indah mendengarkan anak sendiri berkata "Aku ingin seperti ibuku yang mampu menempuh pendidikan meskipun banyak pengorbanan sekalipun fisik, Psikis dan lainnya".

Pendidikan tinggi yang di dapat perempuan bukanlah untuk menyaingi karir suami tapi justru untuk mengimbangi. Ibu yang dianggap berpendidikan diharapkan dapat mencetak Generasi Rabbani meraih Ridha Illahi.

Sampai sini ibu paham, apakah banyak pertanyaan dibenakmu.

Apakah nanti anakku akan sebangga itu padaku?. 

Apakah dia bangga memiliki seorang ibu yang berpendidikan tinggi tapi kerjanya hanya membuka usaha di rumah kreatifnya?.

Apakah nanti anakku bangga jika ibunya bukan PNS atau BUMN seperti saudara-saudaranya. Bagaimana perasaannya jika dia tahu bahwa ibunya bahkan bukan Abdi Negara dan Bukan Pengusaha Kaya.

Seandainya dia tahu jika ibunya merintis dan memulai bisnis karena keadaan. Hal itu pula yang menjadi alasan ibumu ini bisa melakukan segalanya mandiri. Ibumu pberjuangan keras hingga dia juga pernah gagal dan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. 

Sempit rasanya kehidupan, tapi jika ibu bisa berkata tidak ada yang pernah ibu sesali, sekalipun jauh dari keluarga itu menyenangkan dan membuat ibu merasa menjadi orang paling mandiri. Ketahuilah nak hidup sendirian di tanah rantau meskipun punya segalanya sejujurnya sangat tidak berarti jika jauh dari keluarga. 

Nak, Ibumu Pernah Punya Cita-Cita Tinggi

Sampai saat ketika ibu menulis cerita hari ini, Cita-cita besar itu masih tersimpan rapi. Cita-cita itu masih sama, cerita itu bukan hilang, hanya sejenak tersimpan.

Sejak hari ini, ibu sangat bersyukur atas segala yang ibu dapatkan, kegagalan sebelumnya bukan menjadi alasan untuk menerima kegagalan, tapi hanya bahagia sejenak menerima keadaan.

Sampai saat ini, siapa pun ibumu nanti “Tolong banggalah pada Ibumu, Nak”.

Semoga nanti sampai saat ibu bertemu ayahmu, Ibu berharap Ayah adalah orang yang akan mendukung penuh cita-cita ibu dimasa depan.***

-ANH-

Januari 2026