BELAJAR DARI PARA BUNDA I
Manusia yang diciptakan oleh Allah sejatinya adalah
makhluk yang sempurna, sekalipun kita tahu bahwa hanya dia sang pemilik
kesempurnaan. Perkenalkan wanita paruh baya yang luar biasa, bu Astuti namanya.
Seorang ibu rumah tangga dengan segala kesederhanaanya. Ibunda dari 3 anak ini
sibuk dengan segudang aktivitas rumahnya yang sungguh luar biasa. Jangan hanya
kagum dengan aktivitas dirumahnya saja tapi juga dengan aktivitas yang
dilakukan diluar rumah. Pastikan anda membaca setiap cerita atas kegiatannya. Tidak
ada yang dia harapkan kecuali ridho Allah dalam hidupnya.
Setiap pukul 4 pagi, Ibunda Astuti ini (begitulah aku
memanggilnya) yang tinggal di kota Yogyakarta siap menghadapi dunia. Setelah
menunaikan kewajibannya dengan menjalankan sholat subuh dia segara membuatkan
kopi untuk suaminya dan sarapan pagi untuk anak-anaknya. Tanpa bepikir lama
biasanya bunda astuti segera bergegas ke pasar pagi. Tdak berlama-lama dipasar
bunda membeli beberapa ikat sayur mayur disukai oleh keluarganya dan membuat
stok beberapa makanan untuk beberapa hari kedepan. Buah dan protein tidak
pernah lupa dalam daftar belanjanya. Bagi bunda membuat masakan yang enak
adalah tanggung jawabnya untuk keluarganya. Ya begitulah bundaku ini. Tidak
pernah ada perasaan lelah mengabdi untuk keluarganya.
Kisah lain bebeda pula dengan seorang ibunda Ria yang
aku temui di agenda Muslim United beberapa bulan lalu. Cerita bunda Ria bahkan
membuat aku terhanyut dan menangis mendengarkan kisahnya. Setiap hari
kegiatannya adalah mencari ilmu kepada Allah. Perjalanan jauh dia tempuh dengan
trans jogja bukan menjadi penghalang dari kegigihan sikapnya. Bahkan bunda Ria
sering memberikan motivasi-motivasi Positif untuk orang disekelilingnya dan
juga diriku. Saat bersamanya aku mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran
hidup. Biasanya ketika bertemu aku senang bercerita dengan bunda. Tapi aku
tentu tidak bisa bercerita dengan nya ketika hari sabtu dan minggu sebab dihari
biasa bisa berburu ilmu karena suami dan anak-anaknya bekerja. Sementara sabtu
minggu adalah waktu untuk bersama keluarga.
Ah, ada apa dengan kedua ibu ini. Terkadang kita
merasa butuh waktu untuk mengistirahatkan sejenak tubuh kita dari penatnya
semua kegiatan. Bagi mereka tidak apa lelah asal bernilai pahala. Ketahuilah
sebenarnya bagi mereka sabtu dan minggu adalah waktu yang sebenarnya untuk
mereka bekerja luar bisa. Bunda Astuti dan bunda Ria adalah contoh nyata.
Satiap hari mereka bekerja bukan hanya 8-10 jam saja tetapi mereka
bekerja hampir 24 jam untuk keluarganya. Bahkan bagi bunda Ria mengurus
anak-anaknya disela mencari ilmu agama dan pendidikannya.
Semua perempuan memang ingin menjadi wanita yang
tanguh. Demi keluarga seberapa tinggi pekerjaan sebelumnya atau jabatan
yangtelah diraihnya. Mereka akan ikhlas melepas jabatannya demi keluarganya.
Prinsip hidup mereka adalah seorang wanita dapat masuk ke syurga dengan pintu
manapun yang mereka mau. “kalo Allah siap memberikan syurganya untuk seorang
hambahnya kenapa tidak sebaliknya”. Kenapa seorang wanita tidak mau melepas
jabatan sementaranya hanya untuk menjaga gelaryang di dapatkan untuk
keluarganya. “Syurga yang dijanjikan Allah adalah jaminannya”.
Sama seperti yang aku pikirkan. kadang hal ini
dianggap membanggakan ketika menjadi seorang wanita karir yang sibuk dengan
pekerjaan kantornya. Setiap bulan dapat menghasilkan gaji besar untuk
keluarganya. Benar memang dengan bekerja wanita bisa membantu memenuhi semua
kebutuhan hidupnya bersama suani dan anak-anaknya. Tetapi bukan dengan cara
bekerja di luar dengan beradaptasi dengan perusahaan besar. Ibundaku ini
memilih mengurus segala keperluan suami dan menjaga anak-anaknya. Agar ia dapat
berbakti kepada suaminya.
Sesungguhnya yang dicari oleh bundaku adalah
mendapatkan pahala dari Allah dan keridhoannya. Karena sebuah keyakinan dalam
diri mereka ketika berlelah-lelah di rumah megurus anak dan suaminya, keyakinan
bahwa Allah akan selalu menggajinya besar atas apa yang mereka lalukan dan
berikan secara ikhlas kepada keluarganya. Bukankah wanita yang berbakti kepada
suaminya, menjalankan sholat dan puasa akan Allah izinkan masuk dari pintu mana
saja. Adakah balasan yang lebih indah dari balasan syurga Allah ?
Yogyakarta Maret 2020
0 Komentar