KISAH IBU MUDA DAN BISKUITNYA II
Konyolnya, tanpa merasa jahil, si pria membelah
biskuit. Ia mengambil separoh dan mempersilahkan si ibu muda untuk menikmati
sisa parohannya. Walau si pria tersenyum simpatik menawarkan, namun hati si ibu
muda sudah tidak tahan.
“Keterlaluan!” rutuknya dalam hati sambil bergegas
mengemasi barang dan pindah ke boarding room. Ibu muda merasa harga dirinya
telah dipermainkan. Benar-benar menjijikkan laki-laki yang tidak kenal sopan
santun itu!
Masih dengan kegeraman hati oleh kejadian yang baru
dialaminya, akhirnya si ibu muda berusaha lebih menangkan diri setelah duduk di
dalam pesawat yang akan membawanya pergi. Dia pikir, lebih cepat berangkat,
lebih cepat pula melupakan si pria “kurang ajar”.
Minat untuk melanjutkan bacaan buku yang sempat
tertunda tadi sudah hilang. Ibu muda ingin mencoba tidur saja. Maka, ia membuka
tas jinjing miliknya untuk mengambil kaca mata. Betapa terkejutnya dia.
Ternyata biskuit yang dibelinya tadi masih utuh dalam tas jinjingnya. Melihat
itu mulut si ibu muda kontan ternganga dengan mata besar seperti tak percaya.
Rasa malu, merasa bersalah, dan menyesal menyesak dada hingga membuatnya sulit
bernafas.
Ternyata pria tadi membagi biskuit kepunyaannya kepada
si ibu muda tanpa merasa marah, terganggu, ataupun merasa rugi. Sementara si
ibu muda, tanpa menyelidiki terlebih dulu biskuit itu milik siapa, sudah begitu
marah saat sesamanya manusia turut menikmati kebahagiaannya.
Selesai . . .
Sejak pertama membacanya, pesan yang ada dalam cerita
ini tidak pernah lupa dari ingatan. Bagaimanapun kadang jangan mudah
berprasangka kepada orang lain. Jangan pernah lupa akan kebaikan orang lain.
Jangan mersa pandai tapi pandailah merasa.
Terima kasih atas ceritanya
Yang selalu mengingatmu wahai ibu muda dan biskuitnya
~
0 Komentar