KETUPAT YANG KURANG SEMPURNA
Pandemi adalah wabah mengejutkan sekali yah, ini tidak hanya terjadi di satu tempat saja. Jogja yang terkenal sebagai kota yang ramai, selama terdampak PSBB akibat pandemi berubah menjadi begitu sepi. Aku juga merasakan hal tersebut. Masih ingat betul diawal masa-masa pandemi. Aku bahkan tidak mau keluar dari zona yang menurutku paling aman.
Tidak banyak
aktivitas yang kulakukan. Daerah tempat tinggalku bahkan sepi, dan banyak
sekali tertulis kata “LOCKDOWN” didepan pintu masuk komplek dan perkampungan.
Semua orang
dilingkunganku panik, jogja seketika nampak sepi ditinggalkan penghuninya. Kebanyakan
warga tahun ini pulang ke kampungnya masing-masing. Sementara aku sudah
bertahan disini sejak bulan maret lalu. Dan aku begitu merindukan kampung
halamanku.
Sebenarnya aku
masih bisa pulang seperti keinginanku, tetapi tanggung jawab yang belum kuselesaikan
dan perasaan sayang kepada orang tua nanjauh disanalah yang menjadi
perimbanganku untuk tetap tinggal di kota istimewa ini. Pasalnya baru februari
lalu aku sampai ke kota ini. Sebagai alasan yang paling menguatkan adalah, karena
aku tidak pernah tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku tidak mau jika justru
aku yang membawa masalah kepada orang-orang tercinta di rumah. Sebab diri ini
begitu abai, sehari sebelum kasus pertama kota jogja dirilis aku bahkan mengelilingi
kota dengan lensa yang kubawa kemana-mana.
Awalnya ada perasaan
menyesal karena aku tidak bisa pulang, sebab penerbangan ke kotaku sudah
ditutup dan kabarkan akan dibuka kembali pada akhir juli. Awalnya merasa tidak
percaya, lama-lama aku menyadari aku mampu dan bisa melakukannya. Hingga sekarang
sudah 3 bulan rasanya aku menerima keadaan dengan berlapang dada.
Tidak dapat ku
pungkiri bahwasanya jauh dari keluarga membuatku merasakan ini adalah tahun
terberatku, belum lagi aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku. Makin aku
mengingat makin perasaanku menjadi satu dan semakin membisu. Tahu 2020 begitu
berat untuk dialui. Tapi bagaimanapun, bukan Cuma aku semua orang merasakan hal
yang sama.
Meskipun pandemi
pemandangan dari kamarku memanglah yang terbaik, hari ini disaat hari bahagia
penyambutan hari raya, aku merasa saat -saat ini adalah saat terberat yang ku
lalui di 2020.
Ketupat lebaran
dan Kuah Opor Ayam (tanpa kue Nastar)
Yogyakarta 2020
0 Komentar