SANG PUTRI II

“Menurut lo, lo itu siapa ?. Seenaknya saja nyalahin mobil gue !” Lelaki itu mulai membentak kiara yang sedang kesakitan. “Sekarang gue yang tanya lu itu siapa? Seenaknya nabrak-nabrak mobil gue sama sepeda lu yang kampungan itu” timbalnya. Lelaki itu mengatakan jika dia sebenarnya tidak ada urusan dengannya. “tapi mas, tolong ini dagangan yang aku jual semua nya jatuh” rintih kiara. “Tolong mas, aku mengalami kerugian semua dagangan ini”. Sambil menahan tangis kiara berkata jika dia harusnya mengantarkan kue-kue tersebut kepasar.

“Itu urusan elu yah!” lelaki itu menjawab ketus. “bahkan harga kue-kue lu itu tidak dapat ganti mobil gue yang lecet” tangan nya sambil menunjuk mobil nya yang terlihat beberapa goresan. Sekarang minggir dan jangan menghalangi jalanku” pinta laki-laki itu. Kiara bergeming, apa yang sedang terjadi, apakah ini mimpi atau ini nyata. Kiara nyaris tidak percaya jika pagi ini dia mengalami musibah besar. Kiara tidak mempedulikan lukanya. Kiara kemudian bagun dari jalan, membetulkan sepedanya. Memungut kue-kue yang telah nampak kotor di jalan memeasukkan sementara kedalam box yang sudah bercampur kue satu dan lainnya. Setelah selesai kiara mulai bergerak mendorong sepedanya dan menundukkan kepalanya melewati mobil laki-laki yang angkuh itu dan berkata ”Maafkan aku, mas”.

“pergi, jangan sampai aku melihat lu dan sepeda kampungan lu itu”lelaki itu mulai masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan kiara yang hanya mematung tanpa berkutik. Dengan besar hati kiara menghapus air matanya dan kiara mulai pergi dengan perasaan sedihnya.

Didepan sebuah rumah tanpa sengaja kiara berhenti, dia menoleh kearah sebuah bangunan rumah mewah dan tanpa sadar sedari tadi ada seorang ibu yang memperhatikannya dari kejauhan di balik jendela rumah. Setelah menghela napas panjang kiara pergi danmulai menghilang ditengah keramaian.

Besok harinya kiara kembali menyusuri jalan dan menoleh ke rumah besar itu kembali. Berbeda kali ini, kue yang di bawanya tidak sebanyak kemarin. Tiba-tiba seorang ibu datang bersama asistennya memanggil kiara. “Naak, kamu jual apa” kata ibu muda tersebut. Nampak ada dua orang yang mengikutinya. Hari ini pintu pagar rumah mewah itu terbuka lebar. “Nak. Nak.” Panggil perempuan berpparas cantik itu kembali. Sontak kiara kaget. Ia sangat gugup dengan panggilan tersebut dan menjawab dengan nada gugup “Iya bu, saya berjualan kue bu” sambung kiara. “Wah, ada yang jualan kue, Ibu boleh membelinya” sambung sang ibu. “Boleh bu, silahkan” jawab kiara sopan. Sang ibu kemudian mengisyaratkan tangan nya mempersilahkan kiara untuk masuk kedalam halamannya.

Tidak disangka sang ibu muda ternyata membeli semua kue-kue yang kiara jual. Bahkan ibu muda membayar lebih untuk kue-kue tersebut. Kiara sangat senang dan langsung pulang menuju rumahnya. Sesampainya dirumah kiara bercerita kepadda ibunya apa yang hari ini telah terjadi.

Seketika ingatan kiara kembali pada masa dimana ketika kiara mengalami kerugian karena kue-kuenya terjatuh waktu ditabrak mobil pada waktu lalu. Sepulang dari kejadian itu kiara kembali kerumah dan bercerita semua kejadian yang terjadi. Ibu kiara terlihat sangat sabar dan mengatakan “Mungkin ini cobaan, dan mungkin hari ini kita belum mendapatkan rejeki dari berjualan kue”. Kata tersebut terngiang ketelinga kiara. Kiara tahu betul ketika sang ibu masuk kedalam bilik kamarnya ibu nya terlihat sedih dan menangis. Bahkan untuk modal berjualan kue ibunya sampai harus meminjam uang dan bahan kue ketetangganya tanpa sepengetahuan kiara.

Hari ini uang yang kiara dapatkan dari sang ibu muda kiara berikan pada ibunya untuk membayar hutang nya dan modal berjualan kembali esok hari. Sang ibu tersenyum, dan berkata “semoga Allah senantiasa memberikan rejeki berlimpah kepada sang ibu muda tersebut”. Sungguh mereka sangat berterima kasih.

 

Bersambung . . .

 

Tetapi aku benar-benar tidak sengaja melakukannya

 

Sekarang kamu itu aku , dan kita selesaikan semuanya

Tapi aku tidak puny waktu, ibuku sedang menunggu dirumah. Ibu sedang sakit mas

Itu urusan kamu, kalau tidak kamu juga harus menerima lainnya.