BUDAYA UNGGAH UNGGUH JOGJA
Minggu ini saya ingin membagikan cerita
tentang salah satu budaya yang sudah menjadi refleksi dari masyarakat
yogyakarta. Budaya unggah ungguh, Sikap seseorang sesuai posisinya. Sebenarnya
nilai dari kebudayaan ungah ungguh ini sudah saya amati selama hampir satu
setengah tahun menetap di kota istimewa ini.
Semua dimulai dan digambarkan dengan
sebuah karya yang tidak diciptakan. Ini salah satu budaya yang kental dengan
cerita mengenai Jogjakarta. Saya akan ceritakan kepada teman-teman. Budaya
menjadi satria yogyakarta ini dilihat dari semua bukti peninggalan kebudayaan (Hindu
Budha) Majapahit. Salah satunya adalah keberadaan kebudayaan islam ditengah
masyarakat jawa.
Dalam Film Sultan Agung, dan bukti
kebudayaan di darah wisata kebudayaan, Pleret dan Kertosuro. Semua kebudayaan
yang awalnya dipindahkah ke Kartosuro dan Surakarta (ini merupakan daerah
wisata Pakualaman dan bukti budaya Kraton). Eh.. sebelumnya beberapa kata yang
saya anggap menjadi moto yang bagus selama tinggal dan menetap di daerah
istimewa ini salah satunya Ngayogyakarta : yang biasa diartikan sebagai kata
pantas atau patut merefleksikan orang-orang dan lingkungan budaya dan ciri
sebuah Kota Yogyakarta. Untuk sebuah karta yang tidak asing juga yaitu: Karta :
memiliki makna mengatasnamakan sebuah budaya yang sudah atau telah dilakukan,
mengandung arti baik aman dan tentram. Sebagai simbol sebuah kota istimewa.
Dibawah kepemmpinan penguasa yang baik Mangkubumi Sultan Hamongkubomo 1.
Nila-nilai kebudayaan ngayogyakarta
dalam berbagai bidang baik bahasa, seni, tradisi dan dan budaya kebendaan.
Budaya Unggah ungguh secara (bahasa)
mendefinisikan menjadi sebuah bahasa dan tatanan atau cara bicara. Nilai- nilai
kebudayaan ngayogyakarta dibagi menjadi 5. Tradisi ekspresi, pertunjukan
seni, Adat istiadat, Keterampilan dan
kemahiran, juga kerajinan tradisional.
Dulu saat mengikuti sebuah seminar
tentang kebudayaan Yogyakarta. Yang saya ingat dan menjadi moto saya setelahnya
"Hamemayu Hayuning Bawana : hubungan yg selaras antara tuhan, manusia dan
alam". Dimana kita sebagai manusia akan membangun garis kepercayaan kepada
sang pencipta, menjalankan hubungan harmonis manusia dengan manusia lainnya.
Dan membentuk suatu keselaradan manusia dengan kecintaan pada alam yang
memberikan segalanya.
Ya, bagaimanapun manusia itu memiliki
perjalanan yang akan dilalui. Jika dalam budaya yogyakarta dikenal dengan
"Sangken Paraning Dumadi" atau
perjalanan kehidupan manusia dimulai sampai kembali (dilahirkan atau
datang ke dunia hingga meninggalkan).
Ingat betul waktu iyu mengetahui
sebagai seorang yang diciptakan untuk menebarkan manfaat sebaiknya
"Manunggaling Kawulo Gusti" bagi sang pemimpin hendaknya menyambung
dan membangun hubungan harmonis antara rakyat dan pemimpinan atau kata lainnya
silahturrahmi antar saudara.
- Semua kebudayaan ini dibangun dari
- Bahasa dan kesastraan,
- Sistem pengetahuan, pemikiran dan filsafat
- Sistem religius jawa
- Sistem pencaharian hidup, peralatan, dan teknologi
- Kesenian jawa
Nah bagi yang belum tagu, bukti budaya yogyakarta salah satunya dari ikon kota : Tugu yang berada tepat pada perbatasan dengan pilosofi jalan Margoutomo (artinya jalan utama), Margomulyo (jalan kemuliaan) kanan kiri Malioboro (yang mengandung arti bersikap wali). Filosofi nya adalah ketika berada di kota yogyakarta hendaknya menanamkan nilai Santun dmnapun berada. Satu lagi yang saya dapatkan dari mengenal kota yogyakarta adalah Hidup itu dengan ilmu, berpegang teguh dengan agama akan membawa berkah, apalagi selaras dengan budaya maka hidup akan tercipta menjadi lebih indah.
NB
: Jika teman-teman mengetahui info jika apa yang saya tulis adalah sebuah kesalahan,
mohon tolong diingatkan dan disampaikan. Karena penulis hanya salah satu dari
penikmat dan pengagum budaya jawa.
Terima
Kasih
Penuh
Cinta – November 2020
-AN-

0 Komentar