Martha dan Kehidupannya

Sebuah cerita memang menyenangkan untuk dikenang, seperti yang pernah terjadi pada seorang anak bernama Martha. Gadis manis asal Lombok berumur 24 tahun itu kembali mengintip dari balik jendela kerjanya. 

Tinggal disebuah kota kecil bernama desa Sesanur puluhan tahun akhirnya tiga tahun terakhir bertransformasi menjadi anak kota dan sudah mulai terbiasa dengan bisingnya jalanan kota Jakarta. 

Martha beranjak dari tempatnya kemudian duduk dan diarihnya sebuah buku. Martha mulai membuka diary halaman demi halaman. 

Buku itu terlihat masih sempurna dari luar. Terlihat tumpukan kertas rapi tanpa ada lipatan, tetapi tinta yang tertulis manis didalamnya sudah mulai merubah warna kertas tersebut. Halaman buku itu perlahan membawa Marta dan angannya kembali pada kenangan enam tahun lalu.

Didesa Sesanur, anak sepertii Martha tidak diwajibkan untuk bersekolah, kebanyakan dari mereka dan teman sebayanya akan merasa cukup hanya dengan menempuh pendidikan hingga bangku SMP. 

Tetapi sebagian teman masih ada kesempatan untuk melanjutkan bersekolah di SMA. Tepatnya sekolah tersebut adalah SMK 5 Sanur. 

SMK ini adalah satu satunya sakolah yang terdekat dari desa Sesanur dan dari tempat tinggal Martha. Jika mengambil sekolah negeri maka waktu dan jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 2-3 jam perjalanan.

Setiap pagi Martha bagun lebih awal untuk memulai aktivitasnya. Biasanya hal yang pertama Martha lakukan adalah mengambil air disumur kemudian menngangkutnya untuk mengisi kamar mandi di rumahnya. 

Hal ini biasa dilakukannya untuk membantu meringankan beban nenek nya yang sudah tua. Matha tinggal bersama nenek hanya berdua saja. 

Ayah dan ibunya telah pergi meninggalkannya sejak Martha kecil. Bukan tak memberi kabar tetapi kabar terakhir yang diterima martha adalah tentang ayah yang meninggal 5 tahun lalu akibat kecelakaan. 

Kabar itu terdengar seperti petir ditelinganya. Kabar duka itu menjadi kabar pertama dan terakhir Martha mendengar tentang sosok sang ayah yang dirindukannya. Sementara ibunnya entah dimana berada Martha tidak mengetahuinya. 

Dalam ingatan Martha ingat dari ibunya adalah melalui kiriman uang yang setiap 6 bulan datang kepadanya. 

Awalnya Martha dan nenek nya tidak mau menerima uang pemberian ibunnya, tetapi semenjak surat ibunya yang mengatakan bahwa hanya uanglah yang dapat ibunya lakukan untuk menebus kesalahan dan kekhilafan batin sejak meninggalkan Martha dan neneknya maka nenek dan Martha dengan besar hati menerimanya. 

Setiap amplop yang Martha dan nenek terima mereka selalu menyelipkan doa dan berharap uang datang bersama sang pengirim. Tetapi bulan demi bulan berlalu, tahun semakin berganti. 

Sampai hari itu kembali tiba pada tahun berikutnya hanya amplop yang datang. Didalamnya seperti biasa terselip beberapa lembar uang ratusan ribu. Tanpa kata dan surat yang mereka harapkan. Uang itulah yang digunakan Martha dan nenek nya untuk kehidupan sehari-hari.

Setelah ditinggalkan sang ibu dan berpisah dunia dengan ayahnya. Kini Martha dan nenek nya mulai menjalani hidup dengan lapang dada. 

Pagi ini Martha berjalan lebih awal agar sampai ke rumah sahabatnya arine lebih pagi. Setelah berpamitan dengan nenek nya, Martha mulai melangkahkan kakinya menuju rumah Arine. 

Sekitar 10 menit berjalan sampailah Martha ke rumah Arine. Dari sana biasanya mereka berangkat menggunakan sepeda milik Arine. 

Sepeda Arine telah menemaninya berangkat menuju sekolah. Biasanya sepeda Arine juga yang mengantarkan Martha pulang ke rumah. 

Tetapi tidak selalu indah ceritanya, jika hujan datang biasanya mereka akan berteduh terlebih dahulu namum terkadang disaat yang tidak terduga Arine dan Martha sering kali terguyur hujan ketika perjalanan menuju sekolah dan pulang sekolah.

Arine adalah sahabat baik Martha selama disekolah. Arine orangnya sangat baik begitu juga dengan keluarganya. 

Keluarga Arine mengajarkan Martha artinya keluarga. Ibu dan ayah Arine sudah menganggap Martha layaknya bagian dari keluarga mereka. 

Martha kembali mengingat ketika Martha dan neneknya mengalami masalah, kekurangan bahan makanan atau bahkan kebutuhan. 

Keluarga Arine selalu membantunya. Maka sejak bertemu mereka impian Martha untuk hidup lebih layak salah satunya termotivasi dari keluarga Arine.

Siang ini disekolah ketika Martha sedang duduk di dalam kelas dengan memperhatikan guru yang sedang mengajar, bapak Ridho datang kekelasnya. 

Raut wajahnya seperti mengisyaratkan sesuatu. Bapak kembali mendatangi Martha dan meminta Arine menemaninya. Bapak ridaho menyampaikan berita duka bahwa siang ini nenek Martha telah berpulang. Martha sejenak terdiam tak bisa berkata. 

Air matanya mengalir tak terbendung. Dunianya serasa runtuh, hidupnya serasa telah hilang. Setelah ibu dan ayahnya meninggalkanya kini neneknya yang sejak kecil merawatnya telah pergi menyusul ayahnya. 

Arine dan teman – teman kelas kembali memberikan perhatian kepada Martha. Baik guru dan temannya langsung berduka atas kabar tersebut. Setelah izin kepada teman kelas Martha dan Arine kemudian meninggalkan ruang kelas bergegas kemudian bapak ridho mengantar Martha dengan sepeda motornya untuk pulang kerumah. 

Arine menyusul mengikuti dari belakang dengan sepedanya. Dirumah dia kembali menegakkan hatinya semacam bahwa semua ini hanya hayalan dan mimpi. Tetapi kenyataan memang benar sedang tidak perpihak baik kepada Martha. 

Martha mulai menerima dan tegar karena dukungan Arine dan keluarganya serta teman dan gurunya.

Setelah kepergian neneknnya kini dihari terakhir kelulusan sekolah Martha berpisah dengan teman-temannya. 

Kebanyakan dari mereka mulai melajutnya sekolah ke perguruan tinggi yang ada di kota Lombok, ada yang pergi keluar negeri mencari pekerjaan atau bahkan jika tidak mereka langsung menikah dan menjalani kehidupan yang berbeda. 

Arine lebih beruntung nasibnya dari Martha. Arine dapat melanjutkan sekolahnya di perguruan tinggi untuk mencapai cita-citanya. 

Keluarga Arine juga ikut pindah karena pekerjaan ayahnya. Martha pernah ditawari untuk pergi bersama mereka tetapi Martha menolak sebab  mengetahui bahwa pada saat itu keluarga Arine sedang mengalami masalah ekonomi. 

Hari – hari yang dilalui Martha tanpa Arine begitu menyedihkan dan terasa hampa. Keheningan mulai menyelimuti harinya. 

Tidak ada lagi sahabat baiknya yang selalu menemaninya. Hanya kenangan sepeda Arine yang ditinggalkan sebagai kenangan khusus untuk sahabatnya tercinta. 

Sepeda yang telah menemaninya selama satu tahun terakhir ini untuk pergi bekerja di kedai ikan asap dan berkeliling desa Sesanur

Bersambung

***

Baca Juga >>> Martha dan Kesabarannya Part II