Martha dan Kesabarannya
Martha
kini duduk dimeja kerjanya dengan memandangi foto lamanya ketika bersama
neneknya. Foto itu diambil oleh sahabatnya Arine. Difoto itu Martha terlihat
memeluk neneknya dengan bahagia. Foto itu dambil dua tahun sebelum kepulangan
neneknya. Saat itu Martha dan arine memenangkan perlombaan menullis
disekolahnya dan diberikan sebuah handpone dari sekolah sebagai hadiahnya. Kenangan
indah tergiang di ingatan Martha. Setelah digunakan untuk berfoto dan
berdiskusi akhirnya handpone mereka jual sebab yang mereka butuhkan saat itu
adalah uang. Martha di ruang kerjanya menatap handpone nya yang baru. Ia mulai
mengetik nama Arine di kontaknya kemudian meneleponnya. Mereka akhirnya memulai
percakapan.
Setelah
menutup telpon dari sahabatnya Arine. Martha mulai membuka laci mejanya dan
melihat kertas putih yang terlipat. Martha kemudian kembali membuka buku diary yang
tadi dilekakkan dihadapannya kemudian menangis. Martha teringat akan kejadian
setahun setelah ditingalkan oleh Arine. Tetap dengan kesabarannya Martha menghitung
tabungannya dan berniat untuk menggunakan tabungan hasil bekerja di kedai penjualan
ikan asap sebagai modal awal dia pergi ke Jakarta. Martha bercita-cita untuk
melajutkan kuliah. Sebenarnya dari hati terdalamnya. Martha lebih memilih untuk
tinggal di desa. Tetapi keadaan yang harus membuatnya tega untuk pergi dari
desa yang sejak puluhan tahun menjadi rumahnya. Setelah memutuskan untuk pergi
dan menjual rumah yang sejak lama Martha dan neneknya tempati maka berangkatlah
Martha ke Jakarta.
Begitu berat Martha menjalani
kehidupannya di Jakarta. Martha meluangkan waktunya untuk kuliah. sepulangnya dari
kuliah, Martha bekerja untuk mencukupi kehidupannya di Jakarta mulai dari
menjadi pelayan rumah makan sampai berjualan minuman di taman kota serta
menjadi buruh hingga pembantu rumah tangga. Perlahan tapi pasti berkat kesabarannya
Martha bisa melaluinya. Dua tahun kemudian dia mulai mencoba mencari pekerjaan
yang lebih sesuai dengan pendidikannya hingga akhirnya dia diterima di sebuah
perusahaan multinasional.
Sejak itulah hidup Martha berubah
menjadi lebih baik. Perlahan Martha mulai menemukan cahaya dalam kehidupannya. Martha
dengan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan bersungguh untuk mengejar mimpinya.
Hingga akhirnya dia bisa mendapatkan kehidupan lebih layak. Satu tahun terakhir
Martha mulai mencari sahabatnya Arine dan keluarganya. Mereka akhirnya bertemu
di kota Jakarta. Seketika timbul senyum simpul dari bibir Martha. Martha seperti
belum percaya akhir dari kisahnya akan mejadi seperti ini. Kini Martha kembali
membuka halaman terakhir diary nya. Dilihatnya foto yang diambilnya bulan lalu
bersama Arine dan ibu serta ayahnya.
Tulisan
Terakhir Martha pada buku diary : semua indah untuk dikenang tetapi sakit untuk
diulang.

0 Komentar