Jatuh Cinta Pada Hujan
Hujan adalah ungkapan kata-kata yang melambangkan
sebuah keromantisan cinta. Puisi ini memiliki kesan mendalam dan indah dari
sarwono “Aku Ingin”.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada
hujan yang menjadikannya tiada.
Novel Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan
Juni. Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama: 2015.
Novel Hujan Bulan Juni berisi tentang kisah percintaan
Sarwono dan Pingkan, berisi manis pahitnya hubungan keduanya.
Sarwono yang merupakan orang Jawa asli yang bekerja sebagai
dosen Antropolog di Universitas Indonesia, sedangkan Pingkan keturunan campuran
Jawa dengan Manado yang juga seorang dosen Sastra Jepang di Universitas
Indonesia.
Kisah cinta yang ada terhalang oleh banyak tembok
perbedaan seperti perbedaan agama, suku, pertentangan dari keluarga, dan
hubungan jarak jauh.
Kisah dari Sarwono pertama kali sarwono menganal
Pingkan karena Pingkan yang merupakan adik
Toar. Teman SMPnya saat di Solo.
Permasalahan muncul saat Sarwono dan Pingkan
mendapatkan kabar bahwa Pingkan akan pergi ke Jepang. Ia melanjutkan studinya
mengikuti perintah dari prodinya.
Sarwono merasa sedih karena berpisah dengan Pingkan dan
jarak yang jauh. Begitu pula yang dirasakan oleh Pingkan.
Hati sarwono merasa jengkel akan kepindahan Pingkan
harus ke Jepang kemudian bertemu dan dekat dengan Katsuo.
Masalah berikutnya juga muncul saat Sarwono berkunjung
ke rumah Bibi Henny. Masalah semakin rumit karena dari keluarga Pingkan tidak
setuju jika Pingkan yang memilih Sarwono untuk menjadi pasangannya.
Keluarga Pingkan malah mau dijodohkan dengan dosen
muda yang telah kenal keluarganya di Manado, yaitu Tumbelaka.
Sebernarnya keluarga Pingkan tidak
menyetujui hubungannya dengan Sarwono karena perbedaan agama dan suku. Mereka
tidak mau jika orang Manado mendapat jodoh orang Jawa, dan berharap supaya
Pingkan tinggal di Manado bukan di Jakarta atau Solo ikut dengan Sarwono.
Sebenarnya keberangkatan Pingkan masih
beberapa bulan lagi tetapi diajukan untuk segera berangkat ke Jepang. Akhirnya
Sarwono harus melepaskan Pingkan pergi.
Namun sebelum keberangkatan
Pingkan, Sarwono bertemu dangan ibunya Pingkan dan membicarakan keseriusan
Sarwono untuk menikah. Tidak disangka Ibunya Pingkan merestui hubungan mereka.
Sudah beberapa waktu berlalu, sejak
jarak antara Indonesia dengan Jepang memisahkan mereka. Sarwono sekarang sedang
tidak baik-baik saja karena dia merasa tidak sehat dan harus bertahan dengan
kerinduannya kepada Pingkan yang belum kembali.
Saat Pingkan pulang ke Indonesia
dan ingin segera bertemu dengan Sarwono, Pingkan mendapat kabar buruk. Sarwono ternyata
sedang kritis dan dirawat di rumah sakit Solo akibat sakit paru-paru basah.
Pingkan segera pergi ke Solo untuk
menemuinya, namun sesampainya di sana Pingkan hanya dapat bertemu dengan ibunya
Sarwono.
Ibu Sarwono memberikan sebuah koran
titipan dari Sarwono. Dalam Koran itu tertulis tiga sajak puisi karya Sarwono
yang telah dimuat. Puisi dalam karya tersebut adalah hujan.
Novel ini diadaptasi menjadi sebuah film tahun 2017.
x

0 Komentar