Kisah Dari Selatan Sumatera

*Lanjut

Diam setiap malam selalu menyelimutiku, sebab jika jam dinding mendekati pukul 7 malam semua rumah disini sudah sangat terkunci, dan semua sibuk dengan urusan masing-masing. 

Gelap malam di Kota Palembang sudah menyelimuti, aku baru saja pulang. bekerja sebagai seorang pengantar makanan sebuah rumah makan. 

Aku memang sering melakukan ini. Aku senang mungkin dengan kegiatan ini waktuku sedikit terisi dari pada harus mendekap di rumah sendirian sepulangnya aku dari kuliah. 

Entah kenapa setiap menyusuri jalan ini aku mulai merasakan bahwa kesedihan di dalam diriku mulai kembali. 

Dari sinilah setiap malam gelap bagaikan awan kesedihan yang selalu datang dan tak kunjung pergi. 

Aku mulai membuka tas dan mengambil kunci rumah, pintu yang terbuka mengisyaratkan aku bagaikan aku masuk kedalam penjara yang setiap malam selalu membuatku menangis. 

Aku selalu menangis karena aku selalu merindukan orang tuaku, saudaraku dan kekasih tercintaku yang tak pernah menghubungiku. Aku menangis sebab setiap hari aku harus bekerja dengan mengantarkan pesanan, dari satu tempat ke tempat lain. 

Aku bekerja untuk mendapatkan dana tambahan untuk hidup dikota ini. Maklum kiriman setiap bulan yang selalu orang tuaku kirimkan tidak pernah sampai pada akhir bulan. J

ika aku kaya aku akan selalu meminta uang kepada orang tuaku, kenyataannya mulai saat aku kelas 3 sma ayahku tidak pernah mendapatkan pekerjaan tetap. 

Ia hanyalah seorang pensiunan tentara yang gajinya tidak seberapa. Ibuku hanyalah seorang penjual rujak yang penghasilannya tidak seberapa. 

Aku hanya ingin membahagiakan orang tuaku, karena suatu saat jika aku sudah bekerja maka semua biaya yang akan Anisa butuhkan untuk biaya kuliahnya haruslah menjadi tanggung jawabku. 

Sudah beberapa hari ini aku pusing dengan semua tugas kuliahku. Kami akan segera melakukan perjalanan lapangan ke Kota Riau. Maklum aku adalah mahasiswa semester dua jurusan teknik pertambangan.  

Aku mulai membuka lemari dan kutemukan sebuah celengan ayam. Ku masukkan uang hasil pekerjaan ku hari ini, aku masukkan dua puluh ribu rupiah. 

Memang kecil, namun aku berharap dengan uang dua puluh ribu rupiah setiap harinya dapat membawaku pada perjalanan lapangan ke Kota Riau.

Seketika aku merebahkan tubuhku diatas kasur dikamarku, pikiranku semakin melayang. Aku teringat lagi pada bang Yosef dan rasa kangen itu kembali lagi. 

Dalam pikiranku banyak pertanyaan. Sedang apa ia saat ini?. apa ia tengah sibuk dengan pekerjaannya?, apa dia memikirkan aku saat ini?.

***