Laut Bercerita Karya Leila S Chudori Sangat Sangat Membuat Emosional. Bagi Pembacanya Novel Ini Dikenal Dapat Mengaduk Emosi.

                                                    ceritajogja21.blogspot.com/ANH

Laut Bercerita ditulis oleh Leila S Chudori jelas sangat sangat membuat pembaca memiliki perasaan emosional yang campur aduk. Dilihat dari track record penulis yang tidak main main dengan latar belakang pengalaman kerja di media Tempo sebagai jurnalis selama 28 tahun dan membuat buku ini sangat dekat dan melekat dengan peristiwa faktual.

Sebelumnya, Leila pernah menulis buku dengan judul pulang pada Tahun 2012 dan novel yang juga terkenal adalah Laut Biru pada Tahun 2017. Kedua karya ini mengangkat kisah peristiwa sejarah yang pernah terjadi di indonesia. Novel pulang berlatar cerita tentang kejadian dan peristiwa pada Tahun 1965, sedangkan Novel Laut Bercerita mengangkat tema dengan peristiwa 1998 di masa ini terjadi peralihan era orde baru ke era reformasi.

Leila sendiri telah mendapatkan banyak penghargaan diantaranya untuk Buku DIK (Dunia Tanpa Koma) 2006. Untuk buku Laut Bercerita sendiri telah meraih penghargaan pada Sastra Asia Tenggara S.E.A Write Award pada Tahun 2020. Bahkan Novel Laut Bercerita juga diterbitkan dalam buku terjemahan dalam bahasa inggris. Laut Bercerita juga telah dibuat dalam film pendek berdurasi 35 menit.

Sebelumnya pada Tahun 1991-1998 telah terjadi krisis moneter, dan kasus terbesar yang terjadi adalah tragedi penangkapan 4 Mahasiswa Trisakti. Menurut pandangan penulis sendiri, peristiwa yang terjadi pada Mei 1998 merupakan bagian dari sejarah kelam yang tidak diajarkan dalam bangku sekolah dan tidak pernah ada pertanggungjawabannya dari mereka meski peristiwa tersebut jelas terjadi.

NOVEL LAUT BERCERITA

Laut Bercerita merupakan novel fiksi bersejarah dengan latar kejadian Tahun 1998. Novel ini mampu mengaduk emosi pembaca.

Sampul buku Laut Bercerita ada beberapa cetakan, yang saya review adalah novel dengan sampul laut yang menggambarkan dasar laut dengan menampilkan dua kaki yang dirantai.

Ada banyak pertanyaan bagaimana kelanjutan cerita dan peristiwa 1998 dengan gambaran kalimat persembahan:

“kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya.

BAGIAN I

Suasana yang menggambarkan sudut pandang Laut. Biru Laut Wibisono lebih tepatnya. Merupakan mahasiswa dan aktivis. Latar belakang tempat terjadi di Jogjakarta. Dimana kecintaannya dengan dunia sastra membuatnya bertemu dengan kinan dan tergabung dalam organisasi Winantra dan Wirasena.

Organisasi Winantra dan Wirasena merupakan sebuah organisasi yang memiliki satu visi dan misi yang ingin hidup di negara demokratis. Bersama organisasi ini Biru sering kali ikut dalam diskusi sastra dan bedah buku, salah satunya buku karya Pramoedya Ananta Toer.

Organisasi yang diikutinya oleh Biru pada masa orde baru dianggap organisasi terlarang. Mahasiswa yang terlibat dalam organisasi dianggap sebagai anggota rekan aktivis karena kegemaran mereka sering mengadakan diskusi, menulis gagasan dan aspirasi rakyat menyusun strategi dan pergerakan berakhir dibuang di dalam samudra.

Novel Bagian I membawa kita pada saat penangkapan dan dihilangkannya 13 aktivis salah satunya adalah kisah Biru Laut. Meskipun beberapa diantaranya ada yang kembali dan menjadi saksi hidup atas peristiwa tersebut.

Penangkapan, kemudian disekap dalam tempat yang tidak diketahui, sempat mengalami penyiksaan bahkan kemudian dilenyapkan dan berakhir tidak ada kabar berita.

BAGIAN II

Diambil dari cerita asmara jati, yaitu adik dari Biru Laut. Kisah dengan lingkup kehangatan yang ditampilkan dengan tokoh Ayah, Ibu, Biru dan Asmara. Bagaimana jika membayangkan kehangatan keluarga, kesabaran dan kesetiaan menunggu salah satu anggota keluarga yaitu kedatangan tokoh utama Biru Laut untuk pulang.

Kesedihan yang dirasakan asmara dan keluarga serta teman perjuangan aktivis melakukan upaya untuk menemukan dan mencari keberadaan aktivis yang hilang. Mereka membentuk Lembaga untuk mencari dan menemukan kepastian nasib Biru Laut dan teman -temannya.

Asmara Jati menuliskan kesedihannya yang digambarkan dalam surat untuk kakaknya Biru Laut menggambarkan kerinduannya atas keberadaan kakaknya.

PERASAAN EMOSIONAL

Cerita yang membawa kita kembali pada masa dengan alur maju mundur. Cerita dengan latar tempat Yogyakarta Tahun 1991 dan latar tempat dalam gelap pada Tahun 1998. Pembaca akan merasakan bahwa perasaan yang diekspresikan dalam novel ini bukan hanya berporos pada tokoh utama Biru Laut dan rekan aktivis saja tetapi juga pada keluarga.

Jujur kisah kelam sejarah 1998 menjadi pengingat jika peristiwa bersejarah yang terjadi tidak boleh dilupakan seperti peristiwa 1965 dan aksi kamisan yang terjadi.

Narasi yang dibangun penulis benar-benar akan membuat kita larut dalam perasaan tokoh utamanya. Pembaca akan merasakan getir perjuangan yang tidak pernah mencapai akhir.

Ada beberapa bagian yang benar benar tidak dapat dilupakan. Pembaca dibawah santai untuk menyaksikan kisah cinta Biru dan Anjani, kisah dan perasaan yang menggebu dalam darah para aktivis serta kisah yang dirasakan Asmara dan keluarga.

Emosi memuncak karena didalam buku juga digambarkan, bahwa dalam perjuangan ada sisi lain yang tidak semua murni diwarnai oleh jiwa aktivis sendiri. Ada saja orang yang tidak suka pada pergerakan aktivis bahkan beberapa penghianat dan penyusup yang membawa kecurangan dalam pergerakan.

Dalam keluarga Biru makan bersama adalah moment yang selalu menjadi special. Kehangatan keluarga Biru membuat kita merasa Biru bahagia. Biru bahkan selalu mengusahakan pulang dan berkumpul bersama setiap akhir tahun.

Bagian paling menyenangkan dimana keluarga Biru Laut berbagi resep masakan. Adegan yang hangat paling ditunggu adalah makan bersama dan berbagi tugas dalam setiap momen makan bersama.

Kenangan terberat adalah ketika setiap makan malam, Ayah Biru dan keluarga tetap menyediakan piring di atas meja untuk Biru Laut. Setiap makan malam keluarga tidak pernah lupa akan Biru. Potret makan malam yang menyimpan harapan dan doa keluarga bahwa suatu saat biru akan pulang dan makan bersama di meja makan.***