Saat pertama mendengar NAGARI MINANG, aku kira itu benar negeri yang seperti
orang ceritakan. Penduduknya bermartabat dan selalu punya nama besar dan nama
baik di kota rantau.
Apalagi keindahan yang diceritakan atas anugrah pencipta pada alamnya, keramahan
penduduk yang tergambar dari sikap, perilaku dan tutur kata. Minang memang
memiliki keistimewaan tersendiri untuk mengenalkan budaya yang dijunjung dan
terjaga.
Filosofi orang minang yang ku tahu: "Pergi Tempat Bertanya Dan Pulang
Tempat Berkabar". Minang sungguh tampak memiliki khas sendiri tanpa
meninggalkan akar sebagaimana budaya Jawa, Sunda dan Bugis, atau bahkan
Indonesia timur yang begitu terkenal.
Perjalanan menyenangkan liburan 2 hari 3 malam di ranah minang. Apalagi aku
baru menyadari: "Orang Padang Sudah Pasti Minang, Tapi Orang Minang Belum
Tentu Padang".
Kedatangan ke tanah minang punya cerita dan ruang tersendiri dalam
perjalananku. Memori indah tentang sebuah cerita bahagia sampai cerita sedih
menangis di pinggir pantai Padang.
Harusnya dari awal
datang tujuannya ya langsung main ATV di pantai, cari sate padang terkenal,
kuliner lontong padang yang merupakan makanan minang khas bumbu rempah racikan
minang.
Kalau ke
Sumatera Barat lagi, 3 tempat berikut adalah yang pengen banget aku
datangi dan masih jadi bucket list:
Masjid Raya Padang, Istana Pagaruyung, sama Wisata Jam Gadang Bukittinggi yang
terkenal sebagai Icon Sumatera Barat.
Setidaknya bahagia naik motor keliling Kota Padang jadi salah satu cerita yang
mungkin akan ku ingat terus.
Nangis di pinggir pantai juga akan jadi salah satu momen yang sweet untuk selalu kuingat, indah banget, sih. Selesai jalan makan coklat membuat hati lebih happy lagi karena bisa beli buku di Gramedia.
Keliling kota hingga berakhir di Pantai Padang. Rasanya pengen nyebur aja, deh. Suasana
syahdu banget, dong. Angin semilir
kala itu di pantai padang sudah tidak ada tandingannya.
“Aku datang, duduk kemudian pesen es
kelapa yang dicampur
jeruk nipis. Laper, pesen makan yang
banyak, minum Green Tea ditemani
angin dan berisik ombak sambil baca buku LAUT BERCERITA. Luar biasa”.
Laut
bercerita itu kebetulan kisahnya tentang laut. Kisah tragis Biru Laut yang jadi korban dalam pembungkaman
akibat regulasi. Membaca buku ini, sedang relate dengan apa yang terjadi kala ini. Benar-benar meneteskan air mata. Aku mellow banget pas membacanya, ternyata ada rasa sedih yang sudah
tersimpan sejak lama dan memori itu kembali. Bahkan sore itu air mata yang mulanya tampak malu untuk jatuh akhirnya berguguran
tidak bisa terbendung berapa banyaknya.
Bukan hanya hati yang sedih, ternyata ada semesta yang merespon kesdihan hati kala itu.
Tangisan di tengah hujan ku anggap menjadi kamuflase seakan jika aku berteriak sekeras apapun orang tidak akan mendengar.
Aku benci jika aku sudah jadi seseorang dengan perasaan melow sepertiku, menangis 3 jam
tuh, beneran gak terasa. Hingga
setalah hujan akhirnya reda hati bisa balik tenang dengan
secangkir coklat pasas. Apalagi pemandangan alam setelah hujan untuk menikmati pantai padang sekali lagi.
Benar kata orang, ya. “Sesudah Badai
Pasti Ada Pelangi”.
Padang tuh
ternyata indah dan orangnya pun ramah, ya.
Pesanan mobil taksi online yang ternyata perempuan ini membantu menenangkan hati yang sedang sedih-sedihnya.
Tuhan nggak pernah mengirim seseorang cuma kebetulan, Setiap pertemuan
yang terjadi
pasti karena ada alasan tersendiri, sungguh aku tidak pernah terbayangkan sore itu bisa makan
semangkok soto padang yang enak dan lezat diantar oleh sopir taksi online. Seorang ibu
rumah tangga yang bosan dengan rutinitas dan akhirnya mencoba mengambil job online.
Atas bantuan beliau, rasanya sore itu aku merasa sedang ikut “Short Tour Travel” keliling Padang. Beliau mengantar
dengan dengan senang hati, bahkan nungguin dengan sabar aku makan Es Durian Lamak Banna.
Dapat kesempatan muter
keliling Kota Padang sekali lagi dengan suasana malam hari, melihat Jembatan Siti Nurbaya dan diceritakan
filosofinya.
Bagi penduduk padang sendiri, jembatan bukan
sekedar bangunan saja tapi ada cerita di
baliknya. Kisah legenda tentang cinta tragis antar Siti Nurbaya, Syamsul Bahri dan Datuk Maringgih yang dahulu hanya kubaca dalam novel. Jembatan megah yang di bangun diatas Sungai Batang Arau ini memberikan terlihat indah dengan tampilan kelap kelip lampu dan menampakan Taman Siti Nurbaya Gunung Padang yang indah malam itu.
Terima kasih Bu, diajak keliling hingga berakhir dengan diantar nongkrong di
sebuah lokasi teh legend yaitu Teh Talua, minuman khas
asli Padang, Sumatera
Barat. Terima kasih atas kebaikan beliau yang bahkan
bilang dengan senang hati mau dibayar seikhlasnya. Terima kasih karena setelah
berkeliling bahwa padang bukankota yang biasa saja. Oh ternyata, tidak. Padang bukan biasa saja, tapi sangat luar biasa. Tim jalan mandiri
jangan fokus untuk satu tujuan saja.
“Kota Padang Barat. Terima kasih
ya, udah jadi
kado terbaik di 2025. InsyaAllah habis ini aku semakin bisa menata dan mulai
yang baru lagi. Pantai padang, tolong ambil semua kesedihanku dan aku
titip kesedihan hilang bersama deru ombak yang berbisik sore tapi paling nyata
sore itu, ganti cerita sedih dengan
cerita-cerita
bahagia setelah ini”.
“Aku juga
berterima kasih pada sahabat lamaku: Eva, yang semesta kirim di akhir perjalanan. Karena dengan kehadirannya di sepanjang
jalan pulang tanpa
terduga kami nostalgia kegiatan kami saat sekolah dahulu. Setidaknya di perjalanan pulang aku tidak sempat merasakan galau
karena sendiri. Tenang, nyaman dan semesta memang mengatur semua dengan luar biasa.
28 Agustus 2025
Padang, Sumatera Barat Indonesia
“Memang syahdu
banget, duduk pinggir pantai, pesen es kelapa sambil baca buku. Buku dan sahabat pada perjalanan itu ku anggap sebagai cara Allah
menjagaku dan menjadi bukti bahwa itu kado ulang tahun yang luar biasa. Perasaan baru bahwa di tahun 2025 ini aku
merasa liburan
sendiri tuh mulai terasa membosankan. Mungkin karena bosan sendiri
dan aku butuh teman, teman hidup juga boleh, sih. Semoga tahun depan
kadonya trip lagi, deh dan sekalian teman jalan, dong. Ya Allah, Please”.
Catatan Spesial (29 Agustus)
Air Terjun Lembah Anai
(ANH)
0 Komentar