SANG PUTRI I

Setelah semua kue buatan ibu siap, Kiara keluar dari kamarnya. Dia sudah bersiap melakukan pekerjaan nya. 

Pekerjaan yang sebenarnya melelahkan tapi dia harus melakukannya. Dia menjajakan kue-kue yang dibuat ibunya setiap pagi kepasar-pasar dan warung-warung. 

Memang harus pagi, sebab pelannggan kue ibu nya adalah mayoritas pembeli untuk sarapan pagi. Biasanya kue-kue ini adalah untuk sajian teman minum teh pagi hari. Kue tradisional yang peminat nya juga kaum milenial.

Tidak ada yang berbeda, setelah keluar dari kamarnya kiara langsung mengangkat nampan kue kesepedanya. 

Kebetulan pagi ini hanya tertinggal satu nampan saja. Didanya telah dibawa oleh ibunya kesepeda. Nampan-nampan kue tersebut dimasukan kedalam box sepedanya. 

"kiara pamit bu", kata mencium tangan ibunya. "Ya, Nak. Hati-hati ya. Semoga hari ini kue kita laris, Bismillah", kata ibu tiara penuh harapan.

Kiara mendorong sepedanya bebepa langkah keluar dari pagar rumah nya. kemudian kiara terlihat mulai mengayuh sepedanya dan menghilang dialik tembok tinggi gang rumahnya. kiara sudah biasa dengan keadaan ini. 

Semenjak ditinggalkan ayahnya. Kiara hidup berdua dengan ibunnya. Kiara dan ibunya harus bekerja keras untuk kehidupan mereka dengan berjualan kue. 

Sepeninggalan ayahnya, kiara dan ibunya mendapat beban besar. Yakni membayar semua hutang-hutang ayah nya. 

Semua hutang itu adalah uang yang dipinjam untuk pengobatan ayahnya. Begitulah hidup belum lagi, biaya kontrakan rumah dan juga biaya sekolahnya. Meskipun ini adalah tahun terakhir kiara menyelesaikan sekolahnya.

Jalan masih terlihat sepi sebab sekarang masih pukul 4.30 pagi. Pertama kiara akan menuju pasar Gomblong karena jarak nya dekat dari rumahnya. 

Setelah itu pasar Idem dan memutar jalan menuju pasar Cieke lanjut lagi menjuju warung pak Noya, bu Idem dan pak Kasep. Setelahnya biasanya kiara akan melewati gang kecil pinggir sugai agar cepat sampai kembali menuju rumah. 

Sengaja dipagi hari sebab kiara harus sudah pulang pukul 6 pagi dan berangkat kesekolah jam 7 pagi. Cukup waktu untuk bersiap-siap sebelum kesekolah. 

Sesampainya dirumah kiara bersiap keseklah, biasanya kiara sarapan dengan kue-kue yang dibuat ibunya dan segelas teh panas. Jika berlebih biasanya kiara membawa kue-kue buatan ibunya kesekolah dan menitipkan dengan panjaga kantin sekolah.

Untuk kesekolah biasanya kiara pergi dengan berjalan kaki, sekolah kiara tidak begitu jauh hanya sekitar 1,5 kilo meter dari rumahnya. 

Sebab sepeda akan dipakai ibunya untuk mengambil hasil uang kue kepasar-pasar.  Kiara sudah bersiap dengan seragamnya dan berjalan menuju sekolahnya. 

Aktivitas kira ini sudah biasa dilakukan nya. Hari ini hanya datang kesekolah mengikuti kelas ekstra, sebeb minggu lalu kiara sudah menyelesaikan ujian sekolahnya.

Tadi makam kiara sempat bercerita kepada ibunya, jika dia tidak memutuskan untuk melajutkan kuliah sebab kiara akan membantu ibunya berjualan kue. 

Untuk kuliah kiara butuh biaya yang lebih besar. Tetapi dengan beasiswa yang didapatnya kiara bisa melajutkan kuliahnya, hanya saja dia memikirkan ibunya. 

“Bu, jika kiara pergi kuliah, siapa yang akan menjaga ibu”, kata kiara kepada ibunya sampil mengelus bahunya. “ibu tidak perlu dijaga, tapi masa depan kiaralah yang harus diperuangkan” balas ibunya. 

“seandainya kiara tidak melajutkan kuliah kiara akan menjaga ibu, membantu ibu membuat kue dan menjajakan” kiata berkaca. 

Dengan penuh cinta ibu mengusap air mata kiara dan berkata “kata siapa, setiap ibu akan kesepian tapi untuk melepas anaknya merain kebahagian. 

Itu adalah yang paling menghapus kesedihanya” kiara merih tangan ibu nya dan kemudian memeluknya. Dalam pelukan mata kiara berkaca-kaca dan hatinya ikut meraskan apa yang menjadi harapan ibunya.

Bersambung . . .

PK Episode 1

Baca Juga >>>Putri Keong Part II