Liburan Di Negeri Antah Berantah I

Saya Veni, siswa SMA Palembang. Malam ini suasana terlihat sepi dan diselimuti udara dingin. Dibawah sinar bulan. Suara jangkrik terdengar bernyanyi-nyanyi. Angin sepoy-sepoy masuk melalui tirai kamarku. Aku asyik berkemas barang-barang yang aku bawa untuk liburan. Sejak satu bulan yang lalu kami sekeluarga sudah merencanakan liburan. Besok aku bersama Mama dan Papa akan berangkat ke Medan untuk liburan dirumah Opung. Rencananya kami sekeluarga hendak pergi ke Medan dengan mobil. Papa memilih Pak Didi pergi bersama kami sebagai sopir.

Pagi ini. Perutku serasa bergoncang. Ada perasaan aneh yang kurasakan. Entahlah, seharusnya aku senang sebab aku akan pergi berlibur bersama Mama dan Papa. Aku merasa tubuhku menjadi sangat lemah. Akhirnya mata ini tak sangup untuk tetap tebuka. Saat aku bangun dari tidur. Entah apa yang terjadi sekarang. Sekaranng aku tidak tahu dimana keberadaanku ini.

Keadaan ditempat ini seperti sebuah negeri yang telah lama ditinggalkan penghuninya. Bangunan-bangunan kuno yang sudah tidak terurus. Banyak sekali kayu-kayu bertumpuk dihalaman rumah. Rumah inipun kecil-kecil. Jendela dari kayu. Aku tak melihat siapapun disini. Aku yakin betul bahwa ini bukanlah kampung dimana Opungku tinggal.

“Hey,apa yang kau lakukan disini. Pulanglah !” tiba-tiba ada sesosok anak mengagetkanku. “Siapa kau? ”. “Aku Yuyun aku salah satu penghuni negeri ini”. “Ini daerah ini. Aku baru petama kali datang kemari”  kataku. “Kau tentu tidak tahu negeri ini. Sekarang pulanglah! Apa yang kau lakukan disini?” menurutku dia anak yang aneh. Setiap ia berbicara padaku dia hanya menundukkan kepalanya. Sepertinya ada yang ia sembunyikan diwajahnya. Mungkin benar tapi aku tak berhak mencampuri urusannya. Sekilas ia terlihat seperti anak laki-laki. Gayanya berpakaian dengan bluss biru laut dan topi. Tepi dia sebenarnya adalah anak perempuan. Aku tahu itu dari rambut panjangnya yang diikat kuncir kuda dan diselipkan ditopinya. “Oh iya kenalkan aku Veni” kataku sambil mengulurkan tangan. Dia hanya memalingkan muka. “Apa kau tinggal sendiri di sini?”. Sekarang ia malah pergi meninggalkan aku yang hanya termangu. “Kau tak akan ikut aku !” ia melangkah pergi. “aku tidak ingin pergi”. Aku harus mencari Mama dan Papaku. Mungkin sekarang mereka mengkhawatirkan aku”  jawabku. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Setidaknya aku bisa memberikanmu sepotong roti untuk perut mu yang lapar itu”. Benar juga dia tahu kalo sekarang perutku ini tengah berdendang “Sepertinya saat ini aku memang membutuhkan petolonganmu. Terutama perutku ini” aku tersenyum kemudian mulai menghampirinya dan berjalan mengikutinya.

Setelah beberapa meter kita berjalan ternyata kita sampai juga disebuah rumah. Memang disepanjang perjalanan ia tidak berkata apapun. Ia membuka rumah dan aku segera ikut masuk kedalam rumah. Dengan rasa heran aku memandangi setiap benda yang ada dirumah itu. Kupandangi setiap sudut. Dapur dan ruang utama menjadi satu. Dan juga sepertinya hanya ada satu kamar saja. Aku segera mengambil posisi duduk disebuah sofa tua. Didepan saya telah ada sebuah teko dan cangkir. Ia menuangkan isi teko itu kemudian membuka sebuah lemari dan mengambil sepotong roti. “Ini untukmu. Jika kau lelah kau bisa beristirahat di sofa itu”. Aku bertanya “Apa kau tinggal sendiri dirumah ini. Dan apa kau tidak takut tinggal sendiri dinegeri ini”. ia segera beranjak dari tempatnya dan menuuju ruang disudut kiri itu “Aku memang tinggal sendiri dirumah ini. Tapi aku tak tinggal seorang diri dinegeri ini”. Aku terkejud “Dinegeri ini masih ada orang lain?. Sejak tadi aku tak melihat seorangpun selain kamu”. “Apa kau tak melihat keadaan ramai orang-orang yang sibuk lalu lalang ditempat kita bertemu. Dan apa kau tidak melihat beberapa meter dari rumah ini. Jalan yang kita tempuh tadi adalah sebuah pasar” ia kemudian melangkah masuk kekamarnya dan meninggalkan aku yang sedang termangu dengan perasaan aneh.

Apa yang salah denganku tapi memang aku tidak melihat seorangpun. Pikiranku mulai menerawang tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku seharusnya bersama papa dan mama ku menuju rumah Opungk. Dan aku seharusnya berlibur bersama mereka dengan gembira bukan malah tersesat dan liburan negeri entah berantah yang belum pernah kukunjungi ini dan tak tahu dimana sebenarnya aku.

Kepalaku mulai pusing dan . . .

Bersambung . . .

-AN-