Liburan Di Negeri Antah Berantah I
Pagi ini. Perutku serasa bergoncang. Ada
perasaan aneh yang kurasakan. Entahlah, seharusnya aku senang sebab aku akan
pergi berlibur bersama Mama dan Papa. Aku merasa tubuhku menjadi sangat lemah.
Akhirnya mata ini tak sangup untuk tetap tebuka. Saat aku bangun dari tidur.
Entah apa yang terjadi sekarang. Sekaranng aku tidak tahu dimana keberadaanku
ini.
Keadaan ditempat ini seperti sebuah negeri yang
telah lama ditinggalkan penghuninya. Bangunan-bangunan kuno yang sudah tidak
terurus. Banyak sekali kayu-kayu bertumpuk dihalaman rumah. Rumah inipun
kecil-kecil. Jendela dari kayu. Aku tak melihat siapapun disini. Aku yakin
betul bahwa ini bukanlah kampung dimana Opungku tinggal.
“Hey,apa yang kau lakukan disini. Pulanglah !” tiba-tiba ada sesosok anak
mengagetkanku. “Siapa kau? ”. “Aku Yuyun aku salah satu penghuni negeri ini”.
“Ini daerah ini. Aku baru petama kali datang kemari” kataku. “Kau tentu tidak tahu negeri ini.
Sekarang pulanglah! Apa yang kau lakukan disini?” menurutku dia anak yang aneh.
Setiap ia berbicara padaku dia hanya menundukkan kepalanya. Sepertinya ada yang
ia sembunyikan diwajahnya. Mungkin benar tapi aku tak berhak mencampuri
urusannya. Sekilas ia terlihat seperti anak laki-laki. Gayanya berpakaian
dengan bluss biru laut dan topi. Tepi dia sebenarnya adalah anak perempuan. Aku
tahu itu dari rambut panjangnya yang diikat kuncir kuda dan diselipkan
ditopinya. “Oh iya kenalkan aku Veni” kataku sambil mengulurkan tangan. Dia
hanya memalingkan muka. “Apa kau tinggal sendiri di sini?”. Sekarang ia malah
pergi meninggalkan aku yang hanya termangu. “Kau tak akan ikut aku !” ia
melangkah pergi. “aku tidak ingin pergi”. Aku harus mencari Mama dan Papaku.
Mungkin sekarang mereka mengkhawatirkan aku” jawabku. “Baiklah, jika itu keinginanmu. Setidaknya
aku bisa memberikanmu sepotong roti untuk perut mu yang lapar itu”. Benar juga
dia tahu kalo sekarang perutku ini tengah berdendang “Sepertinya saat ini aku
memang membutuhkan petolonganmu. Terutama perutku ini” aku tersenyum kemudian
mulai menghampirinya dan berjalan mengikutinya.
Setelah beberapa meter kita berjalan ternyata
kita sampai juga disebuah rumah. Memang disepanjang perjalanan ia tidak berkata
apapun. Ia membuka rumah dan aku segera ikut masuk kedalam rumah. Dengan rasa
heran aku memandangi setiap benda yang ada dirumah itu. Kupandangi setiap
sudut. Dapur dan ruang utama menjadi satu. Dan juga sepertinya hanya ada satu
kamar saja. Aku segera mengambil posisi duduk disebuah sofa tua. Didepan saya
telah ada sebuah teko dan cangkir. Ia menuangkan isi teko itu kemudian membuka
sebuah lemari dan mengambil sepotong roti. “Ini untukmu. Jika kau lelah kau
bisa beristirahat di sofa itu”. Aku bertanya “Apa kau tinggal sendiri dirumah
ini. Dan apa kau tidak takut tinggal sendiri dinegeri ini”. ia segera beranjak
dari tempatnya dan menuuju ruang disudut kiri itu “Aku memang tinggal sendiri
dirumah ini. Tapi aku tak tinggal seorang diri dinegeri ini”. Aku terkejud “Dinegeri
ini masih ada orang lain?. Sejak tadi aku tak melihat seorangpun selain kamu”.
“Apa kau tak melihat keadaan ramai orang-orang yang sibuk lalu lalang ditempat
kita bertemu. Dan apa kau tidak melihat beberapa meter dari rumah ini. Jalan
yang kita tempuh tadi adalah sebuah pasar” ia kemudian melangkah masuk
kekamarnya dan meninggalkan aku yang sedang termangu dengan perasaan aneh.
Apa yang salah denganku tapi memang aku tidak
melihat seorangpun. Pikiranku mulai menerawang tentang apa yang sebenarnya
terjadi. Aku seharusnya bersama papa dan mama ku menuju rumah Opungk. Dan aku
seharusnya berlibur bersama mereka dengan gembira bukan malah tersesat dan
liburan negeri entah berantah yang belum pernah kukunjungi ini dan tak tahu
dimana sebenarnya aku.
Kepalaku mulai pusing dan . . .
Bersambung . . .
-AN-
0 Komentar