Liburan Di Negeri Antah Berantah II
Kepalaku mulai menjadi pusing. Aku berpikir
keras bagaimana caranya aku menemukan Papa dan Mamaku yang mungkin sekarang
sedang khawatir dangan keberadaanku. Dan akhirnya aku mulai merasakan kepalaku
berduyun-duyun setelah itu aku tak sadarkan diri.
“Kreekk” Suara pintu membangunkanku. Aku harap itu
adalah suara kamar dirumah Opungku dan aku berharap mendengar suara Mama
membangunkanku. Pagi ini aku membuka mata. Aku harap apa yang telah aku alami
berada dinegeri antah berantah hanyalah mimpi. Kubuka mataku dan segera
menegakkan badanku disofa. Keadaan ini sama dengan sebelum kualami. Bahkan roti
yang diberikan anak itu masih berada dihadapanku.
Anak itu dengan topi yang sama masuk dengan
membawa keranjang bambu yang berisikan beberapa ikat sayur. “Oh, kau sudah
bangun. Aku akan segara membuatkanmu makanan” . aku heran dengan semua ini. “Dari
mana kau mendapatkan itu semua?. Apa yang
ada dikerangmu itu?. Kenapa aku masih disini?” pertanyaanku bertubi-tubi. Ia
tidak menghiraukan pertanyaanku kemudian angkat bicara “Aku membelinya dari
pasar. Aku pernah ceritakan, tidak jauh dari rumah ini” dia mulai mengeluarkan
beberapa barang yang ia beli. “Kau gila !. Disini tidak ada pasar. Mana ada
orang yang tinggal dengan kehidupan seperti ini!” aku mulai memberanikan diri
mangeluarkan argument dalam pikiranku. “Kau telah tertidur tiga hari disini. Mungkin
ada sesuatu yang salah dikepalamu. Biar nanti aku buatkan obat untukmu” ia
kemudian membuka lemari yang ada disudut ruangan. Aku memperhatikan apa sedang
ia cari. “HAHHH !” aku terkejut ketika ia mengambil sebuah pisau yang terlihat
tajam dari lemari itu. Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh dengan semua ini.
Aku segera bangkit dan berlari keluar rumah meninggalkannya. Sambil menoleh kebelakang aku melihatnya. Ia
memanggilku “Hey, mau kemana? Kau masih sakit !” aku tak mempedulikanny. Aku
segera berlari. Aku mencari pasar yang tadi ia ceritakan. Mungkin dipasar itu
aku dapat bertemu banyak orang dan bertanya keberadaanku. Atau mungkin akan ada
orang baik yang mau mengantarkan aku pulang. Aku ingin segera sampai kerumah Opung.
Setelah lelah berlari. Aku masih belum
menemukan pasar itu. Hingga akhirnya aku tertunduk lesu dibawah sebuah pohon
mahoni. Aku mulai putus asa. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa kembali
bertemu Mama dan Papa. Saat aku menegakkan kepalaku aku melihat sepasang kaki
dihadapanku. Sepertinya pakaian ini sama dengan yang dinenakan seseorang. Aku
mengingatnya. Ternyata saat aku menoleh keatas aku melihat anak itu sudah
berada dihadapanku. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas wajahnya. Anak
perempuan yang cantik dengan tatapan yang dingin. “Apa yang kau lakukan disini?. Apa kau berniat hendak lari dari rumahku?”
katanya. “aku harus menamui mama dan papaku. Aku hendak liburan ke rumah Opungku.
Bukan dinegerimu yang tidak aku kenal ini”. “Kau bisa liburan bersamaku
beberapa hari lagi. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang” katanya. Aku tak
dapat berkutik“ Aku ingin pulaaaaaang !!!”. “Kau benar-benar nakal” katanya.
Kemudian dia mengangkat tangannya. Apa yang akan ia lakukan padaku. Dengan rasa
takut yang luar biasa. Badanku merasa mengigil. Tekanan darahku turun naik
seketika. Tangan itu dengan sigap menangkap kepalaku. Aku memejamkan mataku
kuat-kuat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi.
Tangan itu mengacak-acak rambutku. Ketika aku
membuka mata aku melihat Mamaku disebelahku. Sebenarnya apa yang terjadi. Mama
tersenyum kepadaku. “Dimana aku, Maaa?” aku bertanya kepada Mama. “Tadi
beberapa menit sebelum kita akan berangkat. Pak Didi menemukanmu pingsan
didepan rumah. Mama segera membawamu kerumah sakit. Dokter bilang kau terkena
penyakit malaria dan harus dirawat dirumah sakit” jelas Mama. “Bagimana liburan
kita Maa” aku bertanya memastikan bahwa apa yang telah aku alami hanya terjadi
dibawah alam sadarku. “Van. Kamu ini bagaimana sih!. Yang penting itu kesehatan
mu. Mama dan Papa akhirnya memutuskan untuk membatalkan liburan kita” jelas Mama.
Aku senang ternyata yang terjadi itu hanya mimpi. Sebenarnya aku merasa kecewa
karena Mama dan Papa membatalkan liburanku kali ini. Tapi aku tetap bersyukur
bahwa aku bisa sadar dari mimpi yang penuh misteri itu.
Seorang suster masuk dan memeriksa keadaanku.
Aku menatap suster itu lekat-lekat. Ternyata wajah suster itu sama dengan wajah
anak yang ada didalam mimpiku. “HAAH ! . apa yang sebenarnya terjadi. Akankah
apa yang aku alami itu kenyataan dan bukan sebuah mimpi”. Suster yang
mendengarkan kata-kataku menatapku dan tersenyum.
Selesai
***
-AN-
0 Komentar